Jam dinding warna putih yang terpasang di tembok bagian luar ruang guru menunjuk pukul 06.15 WIB, para pendamping sudah bersiap duduk dan berjongkok diikuti siswa yang datangnya lebih awal di halaman madrasah.

“Siapa Kita??”

Teriak Pak Wanto ketika menyapa siswa yang sudah berkumpul dan membentuk lingkaran di halaman madrasah. Spontan siswa dengan serentak membalas ” Siswa Mim One Joe di Hati!!”.

Mau apa kita hari ini?

lanjut pertanyaan Pak Wanto kepada siswa peserta Outbound Ceria.  Dengan pekikan serentak mereka menjawab “Bersenang-senang…”  suasana mulai semakin hidup. Suhu semangat mulai membakar mereka. Nampak semangat dan keceriaan di wajah mereka, sehingga tak sabar ingin segera naik ke kendaraan yang sudah siap mengantarkan mereka. Mereka akan mengikuti kegiatan penutupan Fortasi yang dikemas dengan kegiatan Outbound Ceria di Wisata Desa, Mojokerto, Jawa Timur (20/07/2019).

Sepanjang Jalan Jombang-Mojokerto

Begitu naik kendaraan, suasana akrab mulai terlihat. Terhitung satu pekan mereka beradaptasi dengan satu sama lain mereka sudah sangat akrab, sudah saling mengenal karakter masing-masing, termasuk saya yang memulai menebak-nebak si begini, si begitu. Mereka tergolong sangat cepat penyesuaiannya. Terbukti sepanjang jalan Jombang-Mojokerto ngecemes tiada henti. Mereka menikmati perjalanan, setiap apa yang terlihat dari bilik jendela kendaraan selalu dikomentari. Tak sedikit yang berusaha menjelaskan sesuatu yang aneh kepada temannya karena dia paham apa yang temannya tidak paham dengan sesekali debat kecil ala mereka. Saya hanya tersenyum saja, dalam pikiran saya “luar biasa anak-anak ini”. Saking semangatnya bangku yang mestinya untuk duduk, mereka letakkan tas dan penumpangnya bercerita bla bla bla saling berhadap-hadapan dan bersahut-sahutan menunjukkan ingin suaranya terdengar oleh yang lain. Tak ada satupun yang terlihat tertidur atau tiduran dalam perjalanan yang ditempuh kurang lebih 50 menit itu.

Sampai Tujuan

“Horeeee kita sudah sampai tujuan” celutuk saya. Seketika itu suasana menjadi heboh. Mereka spontan koor menyanyikan lagu ciptaannya.

Hore sampek, hore sampek

Hore sampek, hore sampek

Hore sampek, hore sampek

Terdengar bising sekali tetapi menghibur.

Setelah kendaraan benar-benar berhenti mereka segera turun dengan tertib. Di halaman depan Wisata Desa sudah terlihat Kak Fina dan Tim menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. “Selamat datang di Wisata Desa” kata Fina menyapa kami. Kami berbaris rapi kemudian diarahkan ke Aula untuk melakukan kegiatan perkenalan, berdoa, dan pemanasan beraktifitas lebih lanjut.

Alunan musik Naik Delman versi Wisata Desa mengiringi pemanasan mereka. Dengan sangat antusias mereka mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh Kak Fina dan instruktur yang lain.

Selepas pemanasan, kami kemudian diarahkan ke tempat pengolahan Kakao, bahan dasar pembuatan cokelat. Kami dikenalkan apa itu pohon, buah, dan manfaat Kakao. Setelah mendapat penjelasan yang cukup tentang tumbuhan Kakao kami dicicipi buah Kakao dan es cokelat hasil produksi hari ini. “Hmmmmmmm seger sekali” seru mereka.

Estafet Tepung dan Perang Air

Tak kalah permainan ini. Kerjasama dan kedisiplinan inti dari permainan ini. Dimana mereka harus disiplin mengoper tepung dari orang pertama ke orang terakhir melewati atas melewati atas kepala mereka. Jika tidak disiplin maka tepung akan tercecer di jilbab dan kepala mereka. Terbukti tepung tercecer di jilbab dan kepala mereka, karena ada di antara mereka yang iseng tidak tertib mengoper tepung dengan cara dilempar sehingga nampak di wajah dan badan mereka penuh dengan tepung. Lucu sekali mereka.

Meski belepotan tepung, mereka menikmati permainan ini. Terlihat di raut wajah mereka senyum terbaiknya. Tak cukup belepotan tepung, mereka berlanjut ke perang air. Permainan tak kalah disiplinnya. Mereka harus melindungi raja mereka tembakan air dari lawan. Mereka harus berusaha berusaha semaksimal mungkin agar menang dari permainan perang air ini. Jika raja mereka terkena tembakan air maka dinyatakan kalah.

Mereka tidak marah, tidak ada dendam ketika di antara mereka terkena tembakan tepat di muka, basah sekujur tubuh, yang terjadi adalah keseruan dan tawa ketika mereka saling tertembak. Kebahagian tersendiri ketika mereka bisa menembak dan tertembak. “Aneh kena tembak bahagia, menembak tepat sasaran bahagia” gerutu saya.

Setelah persediaan peluru air mereka habis, perang air berakhir. Mereka saling mengenang dan bercerita tentang pengalaman yang baru saja dialami. Seru sekali cerita mereka.

Meniti Jembatan Buaya

Layaknya prajurit tempur, wajah belepotan tepung, basah kuyup mereka menuju sungai dengan rute perkampungan dan kebun Kakao. Ketika terlihat di depan mereka sungai yang dalamnya 3 meteran mereka berteriak “Paakkkk… Buaya!!”.

Sedikit memaksa memang, dengan sedikit merayu meyakinkan mereka sungai itu aman karena sudah dijaga oleh kakak-kakak instruktur dan pendamping. Akhirnya mereka mau mencoba dan teriakan saling bersahutan. Peserta yang sudah berhasil menyeberang memberi semangat yang sedang berada di titian tali penyeberangan. Kompak sekali mereka. Diantara 58 peserta Fortasi, 3 peserta yang tidak berhasil menyeberang titian jembatan buaya ini. Ketiga peserta itu jatuh di tengah-tengah titian dan terjebur ke sungai. Terjebur ke sungai bukannya nangis atau ketakutan, justru mereka tertawa kegirangan menikmati air sungai yang mengalir bersih.

Bercocok Tanam dan Menangkap Ikan

Puas menyeberangi jembatan buaya, lanjut rute berikutnya ke sawah untuk mengenal teknik bercocok tanam padi. Pengalaman pertama mereka mengenal tumbuhan padi yang selama ini mereka konsumsi. Tak hanya mengenal teknik menanam, mereka praktik langsung menanam padi dengan cara mencelupkan dan menekan tumbuhan padi pada lumpur yang sudah dibajak dan dihaluskan sebelumnya.

Menangkap ikan, kegiatan yang asing bagi mereka. Mereka tahunya ikan sudah dimasak oleh bunda mereka. Kali ini mereka harus menangkap ikan.

Awalnya mereka enggan, karena ketika menyentuh ikan yang bercampur dengan lumpur, mereka tampak geli dan melepaskan kembali. Dua tiga kali mereka berhasil menangkapnya. Rupanya mereka semakin tertarik keinginan menangkap. Dengan bangga mereka yang berhasil menangkap untuk meminta di foto ke Pak Septian. ” Seru sekali menangkap ikan, aku dapat 2″ ujar Azzam sambil menunjukkan ikan hasil tangkapannya.

Sempurna sudah kotor-kotoran. Mereka diarahkan instruktur ke tempat laundry. Mereka di “Laundry” di sana. Sehingga badan dan baju yang penuh dengan tepung dan lumpur seketika bersih seperti sedia kala. Baju dan badan mereka bersih, saatnya makan siang. Menu makan siang Fried Chicken. ” Wahhh… menu kesukaan anak-anak nih” komentar saya.

Benar saja, mereka makan lahap sekali. Maklum kegiatannya sedari tadi padat dan menguras tenaga, ditambah menunya pas. Disela-Sela makan tiba-tiba Kak Andri, salah satu instruktur melalui pengeras suara mengumumkan “Setelah makan acara berikutnya adalah Flying Fox”. Spontan pengumuman tersebut dengan pekikan suara mereka “Yeeee…asyikkk” kompak.

Selesai makan meres dengan rapi sesuai instruksi pendamping dan instruktur antri memasang alat keamanan Flying Fox. Secara bergiliran mereka antri untuk mendapatkan gilirannya. Peserta yang takut ketinggian tidak mengikuti kegiatan, mereka langsung berenang.

Berenang, Mandi, dan Ganti Baju

Kurang lebih 1 jam mereka berenang, saatnya bersih diri-mandi berbilas dan ganti baju. Kemandirian mereka teruji. Ada yang lupa menaruh tasnya di mana, mandi tidak pakai sabun padahal bawa sabun, ada yang pakai baju terbalik, sesekali pendamping membantu dan memberi instruksi bagaimana cara memakai baju yang benar. Yang bersedia dimandikan pendamping memandikan. Disaat saya membantu memakaikan baju peserta lain, tiba-tiba si Nauval meminta tolong “Lek, engguhno Lek” saya hanya tersenyum sambil membantu memakaikan bajunya.

“Huhhh…lucu sekali mereka. Gemes” saya mengenangnya.

Jombang, 21 Juli 2019

Selamat beristirahat

Selamat berakhir pekan

Sampai jumpa

Leave a Comment