Dikisah kan pada suatu hari di sebuah padang rumput yang hijau. Datang lah seorang pendatang baru. Pendatang baru itu adalah banteng dengan tanduk yang besar juga runcing. Dengan warna kulit hitam gelap menjadikan si banteng itu tampak sangat gagah, sehingga para sapi betina di padang rumput itu sangat mengagumi si banteng.
Akan tetapi tidak begitu dengan si kerbau. Ia malah iri dan sangat cemburu kepada si banteng yang menjadi primadona dan diidolakan para betina.
Akhirnya sikerbau pun datang menemui si sapi yang sedang berendam di sungai. Terlihat si kerbau pun mulai menjalankan ide liciknya, ia pun mulai membujuk rayu si sapi agar mau bertukar kulit. Akan tetapi si sapi tidak mau karena ia sudah mensyukuri apa yang di berikan Tuhan kepada nya.
Karena terus didesak, akhirnya si sapi pun merasa kasihan kepada si kerbau dan si sapi pun mau bertukar kulit dengan kerbau.
Akan tetapi si sapi memberikan syarat kepada si kerbau, si kerbau harus berjanji jika sudah bertukar kulit, si kerbau harus mensyukuri apapun yang ia miliki.
Dan tapa berfikir lagi, sikerbau pun menyanggupi syarat yang di ajukan oleh si sapi.
Akhirnya mereka berdua pun bertukar kulit, si sapi jadi berwarna putih sedangkan si kerbau berwarna hitam agak kecoklatan.
akan tetapi setelah mereka bertukar kulit rupanya ada masalah, ternyata kulit sisapi terlalu kecil untuk ukuran kerbau yang bertubuh besar dan kekar. Sehingga kulit itu terasa sesak di pakainya, terlalu ketat dan membuat kerbau tidak nyaman memakainya.
Karena merasa kurang nyaman si kerbau dengan kulit barunya, sikerbau pun kembali mengajak si sapi untuk bertukar kulit kembali. Akan tetapi si sapi tidak mau lagi bertukar kulit, karena si kerbau pun sudah berjanji dan menyetujui syarat yang di berikan oleh si sapi kepadanya. Berulang kali si kerbau sampai merengek-rengek ingin menukar kembali kulit nya, akan tetapi sapi tetap tidak mau.
Bahkan tiap mereka bertemu di mana pun dan kapanpun, sikerbau yang tetap berusaha membujuk si sapi untuk menukarkan kembali kulit nya. Tapi si sapi selalu bilang “Moohh (Aku tidak mau)”

Dari cerita tersebut dapat kita ambil hikmah bahwa, apa yang menurut kita baik, belum tentu itu baik juga bagi kita. Begitu juga sebaliknya. Karena Allah swt telah memberikan yang terbaik bagi Ummatnya. (Lia)

Leave a Comment