Oleh: Juni Muslimin

Pendidikan memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia, ia adalah media bagi anak-anak untuk belajar sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan. Pendidikan dalam Islam sangat memperhatikan tahapan perkembangan anak didik, sehingga setiap fase yang dilalui oleh anak memiliki model pendidikan tersendiri. Salah satu fase yang menentukan bagi perkembangan anak adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini seorang anak akan mengalami berbagai perubahan fisik dan mental, sehingga memerlukan adanya bimbingan khusus dalam proses pendidikannya.

Perkembangan fisik dan emosi anak usia ini terjadi sangat signifikan dibanding tahap usia sebelumnya.  Seorang anak yang mulai dapat membedakan baik dan buruk dan menilai sesuatu bermanfaat atau tidak untuk dirinya.

Rasulullah Saw. memerintahkan kepada anak usia 7 tahun ini untuk melaksanakan shalat, meski tidak dengan perintah yang tegas.  Beliau bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah atas hal tersebut jika telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya”. HR. Abu Dawud.

Laki-laki juga memiliki kedudukan tersendiri dalam hukum menutup aurat bagi wanita.  Sebab, wanita hanya boleh memperlihatkan aurat kepada anak-anak yang belum mengerti aurat wanita, yaitu mereka yang belum baligh sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

“dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” QS. An-Nuur : 31.

Ayat ini menunjukan bahwa laki-laki pada masa peralihan dianggap sudah mengerti aurat wanita, karena sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Pada fase usia ini, proses pendidikan harus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Melihat kemandirian yang sudah mulai ada, metodenya pun dapat divariasikan mengikuti perkembangan kemampuan anak.

Secara umum bentuk pendidikannya harus mengacu pada konsep umum pendidikan dalam Islam yaitu bertujuan untuk untuk membentuk manusia yang: memiliki kepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam, menguasai ilmu pengetahuan (iptek), dan memiliki ketrampilan yang memadai.

Berdasarkan kerangka tersebut, maka sejak anak memasuki usia peralihan anak harus diarahkan untuk:

Pertama, Penguatan pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam. Berikut bentuk pendidikan sebagaimana yang pernah diterapkan Rasulullah Saw. :

  1. Penguatan aqidah, berupa aqidah yang lurus, cinta Allah dan Rasulullah Saw., dekat dengan Al Qur’an.
  2. Penguatan syariat Islam dalam perkara sederhana/pribadi, pembiasaan berakhlak mulia, terbiasa beribadah (sholat 5 waktu, puasa Ramadhan dan berdoa dengan standar syariah bukan sekedar ikut-ikutan), takut kepada murka Allah SWT.
  3. Mengembangkan  tsaqofah Islam dengan dorongan untuk menjadi lebih bertaqwa, lebih dekat hubungannya dengan Penciptanya, dari waktu ke waktu.

Kedua, Menguasai tsaqofah IslamiyyahTsaqofah Islam ini dipelajari semata-mata karena dorongan untuk terikat pada Islam dalam kehidupannya, bukan pengetahuan belaka. Meski masih berusia 7 tahun, selayaknya anak sudah dikenalkan dengan tsaqofah Islamiyyah. Hal ini bertujuan agar anak sudah mulai memahami kerangka mengapa harus terikat dengan hukum syariat.  Karena itulah ia mulai diperkenalkan pada ilmu-ilmu tentang al qur’an, al hadits, bahasa Arab sederhana dan fiqh. Sejarah kebudayaan Islam juga perlu disampaikan kepada anak agar mulai memahami bentuk kehidupan Islam yang sesungguhnya, terutama kehidupan di masa Nabi Saw dan khulafaur rasyidin.  Orang tua selayaknya memperhatikan persoalan ini, terutama bila anak tidak di sekolahkan di sekolah agama.

Ketiga, Mengusai iptek. Meski penguasaan iptek lebih dominan dilakukan di sekolah, selayaknya orang tua mengawal berjalannya proses tersebut.  Hal itu bisa dilakukan dengan menemani anak dalam mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan sain dan teknologi.  Tumbuhkan pula kecintaan terhadap ilmu dan semangat belajar yang tinggi.

Keempat, Penguasaan keterampilan (life skill).  Meski di sekolah hal ini telah diajarkan, orang tua dapat berperanan lebih dalam membentuk kemampuan ketrampilan hidup bagi anak.  Misalnya, untuk anak perempuan mulai sertakan dalam tugas-tugas kerumahtanggaan.  Sementara bagi anak laki-laki diajarkan ketrampilan lain yang lebih menguras fisik, termasuk olah raga dan melatih jiwa kepemimpinan (siap memimpin dan dipimpin).

Fase Perkembangan pada anak pada masa peralihan menjadi tahapan sangat penting, sehingga orang tua dan peserta didik hendaknya memperhatikan pendidikannya. Khususnya dengan memberikan pendidikan yang memiliki karakter Islami. Wallahu a’lam.

Leave a Comment