Oleh: wanto *)

 

Madrasah ibtidaiyah (disingkat MI) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan Sekolah Dasar, yang pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Sama halnya dengan MI Muhammadiyah 1 jbg, sekolah yang kurang lebih 85 tahun silam sudah tidak asing lagi bagi masyarakat keberadaannya. Madrasah yang banyak menyumbangkan generasi bagi bangsa dan negara, kader bagi persyarikatan Muhammadiyah. Sudah barang tentu pendidikan karakter secara otomatis melekat pada MI Muhammadiyah 1 Jombang, sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang dimilki Muhammadiyah di bidang pendidikan, karena dalam pendiriannya pun mengusung ruh al-Quran dan Hadits.

Pendidikan dan Karakter

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak.

Berdasar dari pengertian dua kata kunci tersebut maka pendidikan karakter dapat diartikan pengetahuan dan pembelajaran yang dapat merubah karakter, kepribadian, watak seseorang untuk mampu mengaplikasikan pengetahuan yang di dapat dalam proses pembelajaran menjadi sebuah budaya atau pembiasaan yang dibuktikan dengan riligius dan sosial yang tinggi.

Hal ini sejalan dengan pendapat para pakar pendidikan yang mengartikan bahwa pendidikan karakter adalah sebagai suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti ( Lickona).

MI Muhammadiyah 1 Jombang, sejak lama dalam program outing dan outbond mengedepankan aspek pendidikan karakter. Sebagai contoh, kegiatan outing di Panti Wreda, dimana panti ini menampung sosok orang orang yang lanjut usia, yang keberadaannya perlu diperhatikan. Siswa berkunjung ke sana dengan maksud menggugah hati, rasa mereka terhadap kondisi orang yang tidak mampu, sehingga melihat kondisi demikian siswa diharapkan mempunyai rasa empati, peduli dan berkasih sayang terhadap yang kurang mampu. Terlebih lagi sayang terhadap orang tuanya sendiri.

Pendidikan karakter di dapat dari kegiatan ini, pengalaman dari apa yang mereka lihat akan menancap di naluri dan rasa mereka. Bahwa hidup bermasyarakat itu harus peka, peduli terhadap sesama. Hal ini senada dengan dalil tentang memuliakan anak yatim, membantu & memberikan haknya (An-Nisa’: 10, 36)

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’: 10)

Pendidikan karakter juga di dapat pada kegiatan intrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan mentransfer mata pelajaran umum yang biasa diterima siswa di sekolah.

Kegiatan kokurikuler meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan jurnalistik, pembimbingan seni dan budaya, musik, atau bentuk kegiatan lain untuk penguatan karakter siswa.

Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler misalnya kegiatan tahfiz, futsal, dan yang memuat  keagamaan yang tinggi.

Kegiatan berkunjung ke museum, situs budaya merupakan kegiatan yang nilai pendidikan karakternya tinggi. Begitu juga dengan kegiatan belajar dengan mendatangkan guru tamu yang selama ini digagas oleh MI Muhammadiyah 1 Jombang, juga menekankan pada nilai nilai pendidikan karakter.

Artinya, tinggal bagaimana seorang guru mampu memberikan proses pembelajaran pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler untuk menampilkan dan menciptakan karakter bagi anak didiknya.

 

*) Kepala MI Muhammadiyah 1 Jombang

Leave a Comment